Pada akhir November hingga Desember 2025, wilayah Keuskupan Sibolga dan sekitarnya mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat parah berupa banjir bandang dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem. Bencana ini berdampak luas di berbagai wilayah Sumatera Utara, termasuk wilayah Keuskupan Sibolga, Kecamatan Tukka (Desa Sibarung-Barung), serta Paroki Pinangsori (Stasi Huta Godang). Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menghancurkan permukiman dan infrastruktur umum, tetapi juga melanda fasilitas pendidikan, di mana sejumlah sekolah mengalami kerusakan berat, terendam banjir, bahkan tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Kondisi ini semakin memperberat situasi anak-anak dan remaja yang terdampak, karena mereka kehilangan ruang belajar yang aman dan layak.
Melihat situasi tersebut SMA Santa Ursula Jakarta terpanggil untuk turut ambil bagian dalam karya kemanusiaan ini serta mewujudkan komitmennya dalam membentuk pribadi berkarakter melalui kegiatan kemanusiaan Relawan Korban Bencana Alam di Sibolga dengan tema “Sharing Happiness, Building Hope.” Kegiatan ini menjadi ruang nyata bagi para siswa untuk belajar melayani dengan hati, sekaligus menghadirkan sukacita dan harapan bagi saudara-saudari yang terdampak bencana. Dalam semangat Serviam—Aku Melayani—para siswa tidak hanya terlibat sebagai peserta kegiatan sosial, tetapi sebagai pribadi yang bertumbuh dalam kepedulian dan tanggung jawab sosial. Kegiatan ini dilaksanakan pada selama 1 minggu dari tanggal 26 – 31 Januari 2026, yang diikuti oleh 10 siswi dan 2 guru pendamping.
Melalui berbagai aksi nyata seperti penggalangan bantuan, pengemasan dan distribusi kebutuhan belajar seperti perlengkapan sekolah, serta interaksi langsung dengan masyarakat maupun pelajar-pelajar di sekolah yang terdampak, para relawan belajar bahwa pelayanan bukan sekadar tindakan memberi, melainkan perjumpaan yang menguatkan. Tema “Sharing Happiness, Building Hope” mengajak seluruh komunitas sekolah untuk memahami bahwa kebahagiaan yang dibagikan, sekecil apa pun, mampu menumbuhkan harapan baru. Kehadiran para siswa menjadi tanda solidaritas bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam menghadapi masa sulit.
Kegiatan ini juga menjadi sarana konkret penanaman karakter Serviam, khususnya karakter cinta dan belas kasih. Para siswa diajak untuk peka terhadap penderitaan sesama, membuka hati terhadap realitas sosial, serta menghadirkan kasih dalam tindakan yang nyata. Di tengah situasi yang tidak mudah, mereka belajar bahwa pelayanan menuntut empati yang tulus, sikap hormat, serta komitmen untuk menjaga martabat setiap pribadi yang dilayani.
Lebih dari itu, pengalaman menjadi relawan membentuk karakter keberanian dan ketangguhan. Para siswa belajar keluar dari zona nyaman, menghadapi tantangan lapangan, serta tetap teguh dalam semangat melayani. Proses ini menjadi pembelajaran hidup yang berharga bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada peluang untuk bertumbuh. Melalui kegiatan ini, SMA Santa Ursula Jakarta terus meneguhkan panggilannya sebagai komunitas pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kokoh dalam karakter, menghadirkan generasi yang berani melayani dan siap menjadi pembawa harapan bagi dunia.
Anastasia Nurtanti
© 2025 Santa Ursula Jakarta