Jl. Pos No. 2, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10710 (021) 384-0915 yaysatyabhakti@santaursulajakarta.sch.id

Rabu abu menandakan berawalnya masa Prapaskah – masa pertobatan, mengenangkan kembali sengsara Yesus Kristus dan mendamaikan diri kembali dengan Allah.

Rabu abu ditandai dengan pengolesan abu di dahi disertai dengan ucapan, ‘Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.’Abu dipersiapkan dengan membakar daun palma dari perayaan Paskah sebelumnya, diberkati dan bisa digunakan.

Orang Katolik memaknai Abu sebagai pengingat kefanaan seseorang bahwa hidup suatu saat akan berakhir. Ini mengingatkan kembali bahwa manusia berasal dari debu pada kitab Kejadian,”Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah...” (Kej 2:7). Oleh karena itu diperlukan pertobatan dan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.

Masa Prapaskah dalam gereja katolik ditandai juga dengan berpantang dan berpuasa sebagai bentuk penyesalan akan dosa, refleksi diri dan turut ambil bagian dalam sengsara Yesus.

Umat Katolik yang berusia 18 hingga 60 tahun diwajibkan berpuasa. Berpuasa dilakukan pada hari Rabu abu dan Jumat Agung. Berpuasa dalam katolik hanya bisa makan kenyang sekali dalam satu hari.

Berpantang diwajibkan untuk umat yang berusia 14 tahun ke atas dan dilakukan pada hari Rabu Abu, Jumat Agung dan setiap hari Jumat pada masa Prapaskah. Berpantang dimaksudkan untuk menahan diri dari daging dan dari hal-hal yang disenangi.

Masa Prapaskah diisi dengan pertobatan yang sungguh-sungguh dan mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti mengikuti Misa setiap hari, menerima Sakramen Tobat dan berbuat amal keada sesama, dan kepada lingkungan sehingga mengalami kemenangan pada kebangkitan Tuhan Yesus pada waktu Paskah.

“Masa Prapaskah juga sebagai ungkapan syukur dan sukacita atas rahmat yang Allah berikan kepada kita yang senantiasa diundang untuk didamaikan oleh Allah.” Ucap Romo Ary saat misa Rabu Abu Sekolah Santa Ursula Jakarta, 17/2, yang diadakan secara daring.

Ia menambahkan bahwa di masa ini adalah masa untuk semakin mengalami kasih setia Allah, kasih karunia Allah, dan membuat orang-orang semakin bersyukur dan bersukacita yang disertai dengan niat pantang dan puasa dengan sungguh-sungguh.

 

sumber gambar: https://cdn-2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/ilustrasi-misa-rabu-abu.jpg

URSULA - Hari ini (27/1) Ordo Santa Ursula merayakan hari raya Santa Angela Merici, yang merupakan pendiri Ordo Santa Ursula. Hari ini juga bertepatan dengan peringatan 60 tahun hidup membiara Sr. Fransesco, OSU.

‘Jikalau Tuhan yang menanamnya, siapa yang dapat mencabutnya?’ Itu merupakan salah satu tulisan St. Angela Merici di buku Prakata Regula. Memang benar, bahwa Ordo Santa Ursula selayaknya bersyukur atas perjalanan yang sudah 485 tahun. Itu semua berkat kasih Tuhan yang dicurahkan melalui Roh Kudus kepada Santa Angela Merici dan para pengikutnya.

Meskipun di dalam situasi dan kondisi yang berbeda tetapi perayaan tetap diikuti dengan antusias melalui live youtube sekolah Santa Ursula Jakarta.

Perayaan ini dibawakan oleh Romo Eko Wahyu, OSC dengan petugas dari unit SMP Santa Ursula Jakarta yang mengiringi perayaan dengan karya-karya yang kreatif.

“Doa merupakan identitas seorang beriman. Seperti Yesus dalam Injil Yohanes yang mendoakan para murid-muridNya.” Ucap Romo Eko Wahyu, OSC saat khotbah.

Ia juga menyampaikan bahwa Yesus mendoakan persatuan yang tidak hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan Allah. Seperti Yesus dan Bapa yang bersatu.

“Bersatu dengan Allah memberikan kita kebebasan. Semakin dekat dengan Tuhan menunjukkan kepekaan untuk mengasihi sesama kita. Seperti prinsip hidup Sr Fransesco yaitu bertumbuh bersama dengan orang yang dididik. Itu juga merupakan ungkapan bersekutu dengan Allah.”

“Santa Angela dalam perjalanan hidupnya juga mengalami kesukaran. Namun hatinya selalu bersyukur karena Ia percaya akan kasih setia Tuhan yang selalui menyertainya. Sama seperti Santa Angela, kita diajak dalam masa pandemi ini untuk melihat sisi-sisi positif yang kita terima dari Tuhan; masih bekerja, kesehatan yang baik, kebersamaan dalam keluarga dan banyak hal lainnya,” ucap Sr. Edith, OSU saat memberikan kata sambutan selaku  ketua III Yayasan Satya Bhakti dan kepala Komunitas Santa Ursula Jakarta.

Ia juga menambahkan rasa syukur pada peringatan Santa Angela Merici ini untuk Sr. Fransesco yang sudah 60 tahun berkomitmen untuk melayani Tuhan dan sesama secara konsisten, kreatif, dan menjawab tuntutan zaman di bidang pendidikan.

“Pada hari ini saya memperingati tahun ke-60 sebagai Ursulin. Saya syukuri kesempatan untuk mengabdikan diri pada dunia pendidikan orang muda” ucap Sr. Fransesco, OSU saat memberikan kata sambutan.

Selama 60 tahun, Ia sudah mengabdikan diri menjadi kepala sekolah SMA Cor Jesu Malang,  kepala Sekolah Santa Ursula Jl. Pos Jakarta dan Koordinatr Sekolah Santa Ursula BSD Tangerang.

“Saya berterima kasih untuk semua kebaikan, dukungan dan perhatian yang diberikan kepada saya selama ini. Doakan saya agar hari-hari selanjutnya Tuhan membantu saya untuk mempersembahkan hidup saya sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah.” tutup Sr. Fransesco di akhir ambutannya.

 

 

URSULA – 27 Januari tidak hanya sekedar peringatan wafatnya Santa Angela, Pramuka  Santa Ursula Jakarta juga memperingati hari jadinya yang ke-59.

Pramuka Santa Ursula berdiri pada tahun 1961, anggotanya terdiri dari siswi-siswi Santa Ursula karena waktu itu murid-murid Santa Ursula dikhususkan untuk perempuan. Tujuh belas tahun kemudian, pramuka Santa Ursula juga terbuka untuk para siswa laki-laki.

Nomor gugus depan Pramuka Putra 05-469 dan nomor gugus depan Pramuka Putri 05-470.

Mulanya pramuka Santa Ursula hanya terdiri dari Pramuka Siaga sampai Penggalang (SD – SMP). Namun, karena kurikulum 2013 mewajibkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib, maka sejak tahun 2014 dibuka Pramuka Penegak Santa Ursula di SMA.

“Ketentuan ekstrakurikuler merupakan salah satu faktor Pramuka Sanur bisa bertahan sampai sekarang.” Ucap Bu Venti pembina Pramuka SMA

Tidak hanya itu saja, kegiatan yang mendekatkan diri ke alam seperti kemah juga menjadi daya tarik pramuka bagi para siswa dan siswi  Santa Ursula.

“Anak-anak masih mau dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan Pramuka, terutama waktu ada kegiatan camping.” Ucap bu Anne, pembina Pramuka SD.

Namun sangat disayangkan, dengan situasi pandemi saat ini banyak kegiatan yang terhalang, salah satunya peringatan hari jadi pramuka ke-59.

“Tidak ada acara khusus tahun ini, meskipun biasanya kita mengadakan upacara dan makan bersama” ucap bu Anne

Namun semangat Pramuka Santa Ursula tidak surut, Ibu Venti selaku pembina SMA mengatakan bahwa Dewan kerja Pramuka Penegak SMA yang baru, mempersiapkan acara Ulang Tahun Pramuka Indonesia ke-60 untuk Agustus 2021 serta Ulang Tahun Pramuka Santa Ursula ke-60 untuk Januari 2022.

“Kegiatan pramuka di Santa Ursula benar-benar dijalankan oleh para siswa, tidak hanya memakai seragam pramuka di hari tertentu,” Ucap Bu Venti.

Ia menambahkan bahwa selama pandemi kegiatan Pramuka tetap berlangsung dan diadakan secara online. Pramuka siaga dan penggalang SD diadakan setiap hari Jumat, penggalang SMP setiap hari selasa dan Penegak diadakan setiap hari Rabu.

Ia juga menambahkan bahwa pramuka juga merupakan sarana pendidikan berkarakter. Sesuai dengan spiritualitas Santa Angela yang nilai-nilainya dijunjung Sekolah Ursulin beririsan dengan Dasa Darma Pramuka, yaitu bertakwa kepada Tuhan, menghormati orangtua, cinta sesama dan lingungan, berani dan tidak putus asa serta cinta Tanah Air.

“Saya sudah mengikuti kegiatan pramuka sejak dahulu dan meskipun sudah pensiun tetapi saya tetap menjadi bagian dari Pramuka,” ucap bu Anne.

Pernyataan ini dibenarkan oleh Ibu Venti yang menyatakan bahwa menjadi anggota pramuka berlaku selamanya. Ia juga menambahkan kegiatan yang menyenangkan dan menantang membuat anak-anak senang dan bergembira, terutama saat diadakan camping.

Beliau berpesan semoga Pramuka Santa Ursula tetap menjadi berkat buat sekolah Santa Ursula dan Bangsa Indonesia.

“Salam Pramuka!”

 

URSULA – Perayaan ekaristi masih dalam masa natal sebagai ucapan syukur atas kelahiran Yesus sang Juruselamat di tengah-tengah keluarga. Perayaan ekaristi disiarkan secara virtual dari Kapel Hati Kudus Yesus, Biara Santa Ursula, 8/1 2021.

Sebelum perayaan ekaristi dimulai, anak-anak kelas enam menampilkan drama pendek yang berjudul ‘Inilah persembahanku, Mana Persembahanmu?’

Drama ini bercerita megenai bagaimana cara mempersembahkan hal yang baik kepada Tuhan. Orangtua melayani Tuhan dengan cara memberi contoh yang baik kepada anak-anak dan mengasihani satu dengan yang lain. Guru dengan cara mendidik dengan menjadi teladan, dan anak-anak menggunakan sarana dan prasarana dengan sebaik-baiknya.

Drama diringi dengan musik dan lagu yang juga ditampilkan oleh anak-anak sebagi selingan tiap adegan.

Kemudian perayaan ekaristi dibawakan oleh Romo Harry Sulistyo dengan petugas dari unit SD Santa Ursula Jakarta secara virtual.

“Dari penampilan drama, merupakan contoh nyata bahwa kita bisa belajar dan membandingkan siapa yang memiliki Yesus sehingga dia hidup dan siapa yang tidak.” Ucap Romo Harry saat membuka renungan.

Ia menambahkan bahwa keluarga yang memiliki Yesus akan jauh berbeda dengan keluarga yang tidak memiliki Yesus di dalam rumahnya, begitu juga dengan para guru yang mendidik anak-anak dengan memberi teladan yang baik atau tidak.

“Bacaan Injil menceritakan Yesus mau menjamah ketika orang kusta tersungkur di hadapan-Nya. Yesus menyentuhnya dan menjadikannya tahir. Ini merupakan salah satu contoh situasi yang dipulikan Yesus.” Tambah Romo Harry dalam renungannya.

Ia menambahkan di situasi pandemi ini, tiap orang diajak bersama-sama semakin memasrahkan dan mempercayakan kehidupan kepada Yesus.

“Dari Injil juga belajar bahwa ketika Yesus terkenal dengan kesembuhan yang diperbuat, Ia mulai mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa.”

Romo mengatakan bahwa Yesus tidak mementingkan popularitas, justru semakin mendekatkan diri kepada Bapa dan membangun relasi. Ia mengajak anak-anak untuk mencari Yesus dan meneladaninya dengan berdoa dan memasrahkan hidup kepadanya.

Di akhir renungan Romo juga berpesan untuk semester yang baru agar anak-anak lebih mengandalkan Allah, memiliki semangat hidup seperti Yesus, dan terus menerus memuji Allah dalam kehidupan.

Page 3 of 4