Jl. Pos No. 2, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10710 (021) 384-0915 yaysatyabhakti@santaursulajakarta.sch.id

Sentra Vaksinasi Serviam (SVS) merupakan wujud nyata integrasi Serviam dari ikatan alumni sekolah-sekolah yang dikelola oleh para suster Ursulin, diantaranya sekolah Santa Ursula, Santa Maria dan Santa Theresia. Meskipun berbeda karakter, tetapi dengan membawa nama Serviam menjadikan perbedaan menjadi satu kesatuan utuh untuk bangsa dan negara.

Makna Serviam itu sendiri yaitu ‘Saya Mengabdi’. Semboyan yang terdapat pada logo sekolah-sekolah ursulin ini tidak hanya mementingkan pembelajaran yang diterima pada masa sekolah tetapi juga pembentukan kepribadian luhur yang diterapkan bahkan setelah menjadi alumni.

Salah satu wujudnya adalah mengambil bagian dalam penanganan pandemik Covid-19, yaitu dibentuknya Sentra Vaksinasi Serviam. Pengabdian untuk negara dan masyarakat agar lepas dari pandemik yang berkepanjangan. Semangat Serviam tampak pada relawan dan petugas kesehatan yang mendaftarkan diri untuk mengambil bagian dalam sentra vaksinasi ini. Semangat untuk mengabdi dan melayani ini ditujukan untuk semua lapisan masyarakat yang datang ke sentra vaksin dengan memberikan layanan yang ramah, tertib, dan prosedur yang mudah.

Sentra Vaksinasi Serviam berlokasi di Sekolah Santa Ursula Jakarta. Berkat kerjasama para suster, para guru dan panitia, merombak lingkungan sekolah sebagai sentra vaksin; dari lapangan sekolah sebagai tempat pre-registrasi, ruang kelas sebagai ruang tunggu dan observasi, aula sebagai tempat screening dan vaksinasi dan penggunaan fasilitas sekolah demi menunjang lancarnya proses vaksinasi.

Proses vaksinasi dibantu oleh para relawan yang bertugas dalam melayani para lansia, pekerja publik dan disabilitas dari proses pendaftaran, screening, penyuntikan, observasi sampai dengan pencetakan kartu vaksinasi.

Kegiatan ini diapresiasi banyak pihak baik dari instansi pemerintah, para jurnalis dan para masyarakat yang datang melihat dan mengikuti sendiri proses vaksinasi.

“Sentra vaksinasi seperti Sentra Vaksinasi Serviam sangat diperlukan. Fasilitas pemerintah seperti RSU dan Puskemas tidak akan cukup untuk mencapai target 181 juta akseptor dalam setahun.” Ucap Wakil Menteri Kesehatan, dr. Dante Saksono Harbuwono saat meninjau Sentra Vaksinasi Serviam.

“Saya mengapresiasi upaya yang dilakukan para alumni sekolah yang menyelenggarakan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat.” Ucap Wakil Ketua MPR RI, Lestari Mordijat.

Sentra vaksinasi ini sudah mulai dari tanggal 20 Maret 2021, tepat pada hari Sabtu. Sentra Vaksinasi Serviam bekerjasama dengan Puskesmas Kecamatan Sawah Besar dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga bulan dengan target sasaran 30.000 orang. Kegiatan di Sentra Vaksinasi dilaksanakan pada hari Senin sampai dengan Sabtu dari pukul 08.00 sampai pada pukul 13.00 WIB.

Sekarang, dibuka pendaftaran bagi pra lansia yaitu potensi akseptor yang berusia di atas 50 tahun yang mempunyai KTP DKI Jakarta atau yang memiliki surat keterangan domisili DKI Jakarta dan program 2+1 yaitu program non lansia dengan membawa 2 lansia atau pra lansia ke Sentra Vaksinasi Serviam. Sentra Vaksinasi Serviam juga membuka pendaftaran bagi difabel yang berusia delapan belas tahun ke atas. Pendaftaran dan persyaratan dapat dilihat melalui website: www.vaksinasiserviam.com.

Lawan Covid-19 dengan ikut vaksin!!

SERVIAM!!!

 

Halo Sanuriaaan!

Selain bedah film yang diadakan sekolah dasar Santa Ursula Jakarta, anak-anak diajak untuk mengapresiasi perjuangan Kartini yang diadakan melalui lomba. Lomba yang diadakan yaitu lomba mewarnai untuk anak kelas 1 dan 2, lomba menulis puisi untuk anak kelas 3 dan 4, lomba menulis narasi berdasarkan meme Kartini dan lomba foto selfie dengan quote inspiratif untuk anak kelas 6.

Lomba ini dinilai oleh guru-guru yang ditunjuk. Berikut hasil-hal karya anak-anak yang diberikan apresiasi oleh para juri:

1. Lomba Mewarnai Kelas 1

2. Lomba Mewarnai Kelas 2

3. Lomba Menulis Puisi Kelas 3

4. Lomba Menulis Puisi Kelas 4

5. Lomba Menulis Narasi Kartini Kelas 5

 

6. Lomba Foto dan Quote yang Menginspirasi Kelas 6

Selamat kepada para pemenang. Terus tingkatan karya untuk bela bangsa dan negara.

SERVIAM!!

Pada tanggal 21 April 2021, tepatnya pada hari Kartini, Osis SMP Santa Ursula Jakarta merayakan Karpas (Kartini – Paskah) melalui virtual meeting. Meskipun diadakan melalui virtual, namun diikuti secara antusias oleh para murid dengan mengenakan pakaian adat.

“Meskipun sudah satu tahun tidak bertemu, namun ruang virtual menjadikan kita dekat; hanya beberapa centi di dalam laptop. Jadi, meskipun jauh, namun dekat di hati.” Ucap pak Bambang, Kepala Sekolah SMP Santa Ursula Jakarta, saat membuka sambutan.

Beliau juga menambahkan inti dari acara Karpas ini membuat para murid dan guru mampu bersinergi seperti makna peringatan hari Kartini dan hari Paskah, yaitu sama-sama bangkit.

“Paskah merayakan kebangkitan Tuhan, bangkit dari keterpurukan, cerdas dan kreatif menyikapi situasi, menjadi lebih dewasa dalam memutuskan suatu permasalahan yang kita hadapi,” ucap pak Bambang.

Kartini yang merupakan sosok pejuang perempuan dan pendidikan yang awalnya hanya mendukung pria kemudian tampil di depan untuk membuka jalur pendidikan untuk semua orang, terlebih-lebih perempuan.

“Berkat perjuangan Kartini, kita bisa sekolah dan setara dengan kaum pria,” ucap pak Bambang.

Acara Karpas ini dimeriahkan dengan acara lomba menghias telur dan lomba drama kelas tujuh dan kelas delapan. Drama-drama ditampilkan secara kreatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan mengikuti tren saat ini namun tidak kehilangan makna untuk menyampaikan pesan-pesan perjuangan dan kebangkitan.

Seperti yang disampaikan Ketus Osis SMP Santa Ursula Jakarta periode 2021, Christiebelle Joelle Wynne, “Walau pandemi belum berlalu, jangan jadikan itu sebagai penghambat bagi kita untuk menjadi kreatif menggali potensi dan juga bersukacita merayakan Paskah dan Kartini.”

Pak Bambang turut mengapresiasi para guru atas pendampingan dalam proses pembelajaran anak-anak hingga berproses dengan baik dan menyikapi hal-hal positif bagi perjuangan Kartini dan sekaligus dalam merayakan Paskah.

“Kita mampu bangkit untuk lebih berkembang, maju dan meraih mimpi-mimpi demi kebaikan dan cita-cita kelak,” ucap pak Bambang.

Jikalau penasaran dengan pertunjukan drama murid-murid SMP Santa Ursula Jakarta, dapat disaksikan di sosial media instagram @osissmpsanur.

SERVIAM!!!

Salam serviam!!

Halo para Sanurian!!

Di hari Kartini ini apa yang kamu lakukan? Apa kamu dapat mengambil makna dari peringatan hari Kartini ?

Di Sekolah Santa Ursula Jakarta, dalam memperingati hari Kartini, anak-anak TK dan SD mengadakan bedah film. Bedah film dilakukan melalui virtual meeting. Acara ini diikuti secara antusias oleh anak-anak dan para guru dengan menggunakan batik atau pakaian adat daerah.

Film yang ditonton oleh anak-anak TK sampai kelas 3 SD adalah film animasi ‘Kisah Tokoh R.A Kartini dari Jawa Tengah’ dan kelas 4 sampai kelas 6 SD menonton film ‘Sejarah Kehidupan Kartini’.

Film animasi dan film sejarah ini menceritakan tentang kehidupan Kartini yang tidak bisa meneruskan sekolah setelah usia 12 tahun dan harus menikah di usia yang muda. Namun Kartini berjuang untuk menegakkan pendidikan terhadap perempuan dan orang-orang yang miskin, sehingga dia mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.

Dari film ‘Sejarah Kehidupan Kartini’, anak-anak belajar kehidupan budaya Jawa masa lampau. Banyak anak-anak yang tertarik dan bertanya mengenai adat Jawa yang ditampilkan di dalam Film.

Acara yang diadakan melalui virtual meeting ini dimulai dengan doa dan dilanjutkan dengan menonton film singkat. Tentunya acara ini dibagi per sesi kelas.

Murid-murid TK diperkenalkan akan sosok R.A Kartini. Para guru menjelaskan kembali mengenai film pendek Kartini bahwa Kartini sejak kecil suka akan pendidikan, suka belajar bersama dengan membaca koran. Berkat perjuangannya, perempuan memperoleh pendidikan yang setara.

Dari film itu para guru berpesan bahwa sosok Kartini yang suka belajar sepatutnya ditiru oleh para murid untuk lebih giat belajar agar dapat mencapai cita-cita.

Berbeda dengan murid TK yang hanya menyaksikan film dengan serius, murid-murid kelas 1 sampai 3 sudah mulai memperhatikan kejadian-kejadian di dalam film. Para murid bisa menemukan makna dibalik film pendek tersebut.

Setelah film selesai anak-anak diajak untuk sharing tentang makna yang didapat dari film. Para murid berbagi pendapat mereka. Ada yang mengatakan  Kartini seorang perempuan yang memperjuangkan pendidikan, dan Kartini membela kedudukan perempuan.

Celine murid kelas 2 mengatakan, “ Film ini menceritakan tentang orang miskin dan perempuan tidak bersekolah. Oleh karena itu, Kartini berjuang untuk membela hak-hak orang miskin terutama perempuan untuk bersekolah.”

Salah satu murid juga bertanya, “Mengapa perempuan sekolah hanya sampai umur 12?” Guru pun menjawab, “Karna perempuan diharapkan hanya bisa membaca dan menulis saja, setelah itu bekerja di rumah. Kartini yang melihat itu tidak adil, memberanikan diri untuk membuat sekolah untuk anak perempuan.”

Antusiasme lebih terasa pada murid kelas 4 sampai kelas 6 SD. Murid-murid lebih kritis melihat film. Bahkan mereka belajar budaya zaman dahulu.

Film Kartini yang berlatar belakang Jawa zaman dahulu, diperlihatkan bahwa perempuan merupakan kelas dua, jadi perempuan berjalan tidak boleh tegak dan harus ‘jengkang’ berjalan jinjit sambil jongkok. Perempuan yang tidak boleh bersekolah tinggi dan Perempuan yang harus menuruti kehendak orangtua. Inilah yang menggugah sanubari Kartini untuk merubahnya sehingga Ia bertekad untuk membuat sekolah untuk para perempuan.

Ibu Maria juga menjelaskan cara berjalan dan cara hormat perempuan pada masa dahulu. Ia juga menjelaskan ada aturan di keluarga bangsawan dan Kartini yang juga berasal dari keluarga bangsawan harus mematuhi aturan tersebut, termasuk menikah waktu usia muda dan tidak bisa menolak perkataan orangtuanya meskipun Ia sangat ingin bersekolah.

Pak Ignas guru kelas 5 mengatakan bahwa hal yang dapat dipelajari dari Film Kartini adalah agar kita Kartini masa depan lebih bersyukur dan mau berbuat kebaikan dengan cara membantu orang lain dan teman-teman, lebih mandiri dan bertanggungjawab terhadap segala pekerjaan yang dilakukan.

Setelah film selesai, anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam memperingati hari Kartini dengan membuat karya-karya yang akan di posting di google classroom.

Serperti apa ya karya anak-anak Santa Ursula Jakarta?? Ditunggu yaa!!!

SERVIAM!!!

Page 1 of 4